Kamis, 09 Desember 2010

BENCANA DI BUMIKU !

 
               Bumi kita ini sudah tua, banyak para ahli berpendapat bahwa abad ke 20 ini adalah abad bencana alam. Hal tersebut merupakan suatu pembenaran karena dalam kurun waktu 10 tahun ini saja negeri kita indonesia sudah banyak mengalami bencana alam tersebut. Mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan lain-lain.Bumi ini tidak statis, melainkan dinamis dan secara terus-menerus mengalami perubahan. Sampai saat ini perubahan itu masih tetap berlangsung. Seperti benua bergerak, terjadi gempa bumi, gunung merapi meletus, angin topan, serta terjadi terjadi penyimpangan musim kemarau dan musim penghujan. Peristiwa tersebut terjadi di luar pengaruh kegiatan manusia dan manusia tidak mampu mencegah dan membendungnya, walaupun menggunakan tekhnologi canggih dan modern sekalipun.
                Dalam memprediksi lokasi yang akan terkena bencana, dapat digunakan teknologi yang canggih saat ini, yaitu melalui citra satelit radar dan optik. Dengan data citra dapat diketahui kondisi sebelum dan sesudah kondisi letusan Gunung Merapi, termasuk perubahan yang terjadi pada kawah.  Energi letusan dari Merapi belum betul-betul berhenti dan masih terjadi tremor yang diselingi awan panas, sehingga aktifitas Merapi masih terjadi. Pertumbuhan kubah lava sekitar 3,5 juta meter kubik dengan rata-rata pertumbuhan 28 meter kubik per detik. Berdasarkan perhitungan bahwa 20 kilometer dari puncak Merapi merupakan batas scientific aman yang dikeluarkan pemerintah.
                Sampai saat ini kondisi Gunung Merapi masih dalam kondisi  awas , yang artinya merupakan kondisi yang sangat berbahaya. Dalam kondisi ini, masyarakat di sekitar Gunung Merapi harus mewaspadai aktifitas yang dapat saja tiba-tiba terjadi, seperti awan panas dan muntahan material yang sangat berbahaya. Yang harus diwaspadai adalah bencana dapat saja datang pada saat masyarakat sedang lengah, sehingga saat ini pemantauan Gunung Merapi harus betul-betul dilakukan secara teliti.
                Karena bentuk letusan Gunung Merapi adalah secara vertikal ke atas, maka belum berarti bahwa arah luncuran awan panas akan sesuai dengan citra satelit, tetapi tergantung pada arah angin yang bertiup. Di sinilah kelemahan dari citra satelit. Namun, secara gambar/foto dapat dijadikan sebagai data yang ilmiah. Untuk menentukan arah luncuran awan panas, lahar panas maupun dingin diperlukan pemantauan intensif di lapangan.
                Kerusakan lingkungan hidup oleh alam terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat, sehingga mempengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Rusaknya lingkungan hidup menyebabkan manusia tidak dapat hidup di lingkungan tesebut karena membahayakan dan harus dipindahkan.
                Dengan maraknya bencana lingkungan, baik itu secara alami maupun akibat perbuatan manusia, Indonesia harus memiliki suatu model dalam penanganan bencana. Model penanganan bencana ini harus dimulai dari menumbuhkan kesadaran pada masyarakat akan adanya bencana yang mungkin akan terjadi seperti banjir, gunung meletus, gempa, longsor, tsunami dan lain-lain. Dengan adanya model penanganan bencana ini, diharapkan kita lebih siap dalam menghadapai bencana.
Dimulai dengan peringatan dini bencana, lokasi tempat pengungsian  berkumpul, jumlah tenaga medis, jumlah relawan yang dibutuhkan dan pendistribusian bahan pokok dan logistik. Sehingga tidak ada kata terlambat lagi apabila terjadi bencana.
                Meletusnya Gunung Merapi merupakan takdir kehendak Allah Swt, yang tidak ada seorangpun mampu mencegahnya. Terlindungi dengan baik. lingkungan yang disebabkannya  menjadi bukti bahwa manusia sangat tergantung pada lingkungan. Semoga kita dapat lebih sadar dalam menjaga lingkungan unuk dapat meminimalisir bencana alam, sehingga bumi tempat kita berpijak ini tidak rusak dan hancur karena ulah manusia sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

give your coment for progress us and thanks for your atention..!